Blogger Widgets Keburukan Dari Pemanfaatan Sosial Media Sebagai Pengendali Opini Publik | Writing is Healing

Jadwal Sholat

My Time

Back to top
Sabtu, 23 Januari 2016
  1. Latar Belakang
Di Tengah lingkungan masyarakat yang serba sibuk dan memiliki jadwal harian yang padat seperti sekarang, sosial media merupakan pilihan utamadalam komunikasi jarak jauh yang cepat dan bersifat global. Sosial media bukan saja menjadi sebuah tren masa kini, namun juga merupakan kebutuhan bagi masyarakat sosial. Pemanfaatan sosial media juga semakin berkembang, tidak hanya dimanfaatkan untuk berkomunikasi dengan sahabatatau kerabat jauh namun juga sebagai media iklan, bisnis bahkan politik dalam rangka membentuk opini publik.
Namun demikian disamping memiliki berbagai kelebihan, sosial media juga tak luput dari kekurangan. Perkembangan media sosial yang semakin pesat seringkali dimanfaatkan oleh berbagai pihak dengan tujuan dan maksud tertentu. Bahkan kejayaan dan kemunduran suatu Negara bisa ditentukan oleh sosial media.
Di era demokrasi seperti sekarang opini publik menjadi hal yang sangat penting. Jika ditelusuri lebih lanjut, hal ini akan sangat mempengaruhi pemilihan para calon legislative maupun calon presiden. Selanjutnya, apabila opini publik sudah mudah untuk dikendalikan hanya melalui sosial media, maka sudah sepatutnya pengguna sosial media untuk memperhatikan setiap sentimen yang hadir di dunia maya agar tidak mudah terombang ambing oleh wacana publik yang hadir begitu saja melalui sosial media, karena setiap opini publik akan sangat berpengaruh terhadap kemajuan dan kemunduran suatu Negara bahkan dunia.
Sosial media yang bersifat global tentu memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat bersifat global pula. Artinya, kelebihan dan kekurangan yang dimiliki oleh sosial media akan cepat berpengaruh terhadap para penggunanya secara menyeluruh. Maka, dapat dikatakan bahwa sosial media berpengaruh terhadap peradaban suatu masa.
Perlu diperhatikan bahwa opini publik yang hadir melalui sosial media bukan berarti tidak dapat terkendali, namun hal tersebut juga akan sangat tergantung terhadap seberapa mudahnya pengguna sosial media terbawa oleh arus opini masyarakat global.
Salah satu keuntungan dari sosial media yaitu dapat dengan mudah memantau bahkan mengendalikan opini publik secara cepat dan tepat. Hal ini akan sangat menguntungkan bagi para politisi, Bahkan tak jarang membayar mahal pasukan siber yang bertugas untuk berkeliling sosial media, bergabung dalam percakapan atau forum diskusi lalu memberikan komentar yang berpengaruh terhadap salah satu calon. Tak tanggung-tanggung, pasukan siber yang disewa adalah para ahli dalam bidang teknologi dan lulusan dari universitas ternama.
Fenomena ini semakin sering terjadi dan menjadi tren dikalangan para politisi. Sosial media yang biasanya digunakan oleh penggunanya untuk berkomunikasi malah dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk mengendalikan opini publik. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus karena akan menyebabkan kerugian yang sangat besar bagi masyarakat.
  1. Pengertian
Media sosial adalah sebuah media online, dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi, dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum dan dunia virtual. Blog, jejaring sosial dan wiki merupakan bentuk media sosial yang paling umum digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia.
Andreas Kaplan dan Michael Haenlein mendefinisikan media sosial sebagai “sebuah kelompok aplikasi berbasis internet yang membangun di atas dasar ideologi dan teknologi Web 2.0 , dan yang memungkinkan penciptaan dan pertukaran user-generated content“.[1]
  1. Pembahasan
Sosial media merupakan media untuk bersosialisasi bagi masyarakat, pihak pengguna maupun penyedia masing-masing mendapatkan keuntungan dari sosial media. Karena sosial media yang begitu dibutuhkan di era global, tak jarang hal ini dimanfaatkan oleh beberapa pihak untuk mengambil keuntungan pribadi dan menyebabkan kerugian banyak pihak. Salah satu keuntungan yang dimanfaatkan oleh sebagian pihak dan mengakibatkan kerugian banyak pihak adalah membentuk opini publik.
Salah satu contohnya adalah saat berlangsungnya pemilihan presiden pada tahun 2014 silam. Masyarakat dihebohkan dengan berbagai isu para calon presiden, salah satu calon terlihat memiliki banyak skandal dan calon yang lain dianggap bersih dan merakyat. Berbagai komentar atau isu-isu tersebut hadir melalui sosial media, dan mempengaruhi pilihan masyarakat. Pengguna sosial media yang didominasi urban sangat mudah terpengaruh oleh isu-isu terbaru yang berkembang dikarenakan oleh ketergantungan atas teknologi.
Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden menggunakan pasukan siber untuk mempengaruhi pilihan masyarakat melalui dunia maya, kata Direktur lembaga pemantau jejaring sosial Katapedia Indonesia Deddy Rahman.
Jika ditelusuri kembali, para pemilih yang aktif di sosial media akan mudah untuk merubah pilihannya dibandingkan dengan pemilih yang kurang aktif di sosial media. Hal ini disebabkan oleh banyaknya opini-opini yang beredar di sosial media.
Sebagai pengguna sosial media, hal tersebut mungkin akan dianggap biasa karena sosial media merupakan tempat berbagi informasi secara bebas. Namun, informasi bisa saja dilebih-lebihkan atau dikurangkan dalam sosial media. Selain itu persebaran informasi yang tidak jelas menjadikan sebuah informasi dipertanyakan keotentikan atau keasliannya. Pasukan siber memanfaatkan hal ini dengan menyebarkan informasi yang berlebihan. Tak jarang mereka mengejek di sosial media demi mendapat perhatian kepada pembaca. Pergerakan ini telah dilakukan secara luas dan terstruktur agar lebih mudah untuk mengendalikan opini publik.
Menurut Deddy Rahman dikutip oleh Redaksi kp. pasukan siber bekerja dengan menggunakan banyak akun di jejaring sosial, tujuannya untuk mempengaruhi pilihan pemilih. Pasukan itu dibayar oleh kedua pasang kandidat. “Pasukan ini mulai dikenalkan pada Pilgub DKI Jakarta 2012 lalu,” katanya.
Beberapa ciri-ciri akun berbayar atau pasukan siber adalah mengunggah foto profil perempuan cantik, remaja manis atau perempuan berjilbab.
Kemudian pengikutnya di jejaring sosial kurang dari 100. Mereka dikepalai seorang “kapten”. Tugas dari pasukan siber tersebut mencuitkan kembali (retweet) cuitan “kapten”. “Dalam sehari bertugas melakukan cuitan mengenai pasangan calon sebanyak 50 cuitan.”
Deddy menambahkan jejaring sosial sangat penting, karena pilihan masyarakat di jejaring sosial mencerminkan pilihan di dunia nyata. Apalagi, masyarakat Indonesia juga terbesar di berbagai jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan Instagram.
  1. Kesimpulan
Pemanfaatan Sosial media sebagai pengendali opini publik adalah salah satu dari penyalahgunaan atau kekurangan yang dimiliki sosial media. Berbagai penyalahgunaan ini tentu sangat merugikan pengguna. Namun, dengan adanya kekurangan dari sosial media ini maka akan menjadikan konsumen lebih cerdas dan cermat dalam menggunakan sosial media agar tidak mudah terbawa oleh arus opini masyarakat global. Kebutuhan harus juga dibarengi dengan pengetahuan akan hal tersebut. Oleh karena itu, pengguna sosial media diharapkan dapat memanfaatkan sosial media sesuai dengan tempatnya dan menggunakannya secara cerdas dan cermat.

0 komentar: